Rabu, 04 Juli 2012

Bahan Ajar

GAYA BAHASA NOVEL AYAT-AYAT CINTA

Novel merupakan karya seni yang sangat erat berhubungan dengan kehidupan manusia dan berupa gambaran perjalanan hidup manusia. Gaya bahasa dalan novel merupakan  perwujudan  penggunaan bahasa oleh  penulis untuk mengemukakan gambaran, gagasan, pendapat, dan membuahkan efek tertentu bagi pembaca. Penelitian ini merupakan bagian dari langkah untuk memahami gaya bahasa berdasarkan jenis gaya bahasa, dominasi dan implikasi gaya bahasa terhadap pengajaran sastra di SMA.
Novel Ayat-ayat Cinta (AAC) sebagai sumber penelitian adalah didasarkan atas kemunculan dan kesuksesan  novel AAC karya Habiburraman El Shirazy. Novel itu lahir pada saat yang tepat.. Hal lain novel AAC  sebagai sumber penelitian adalah bahasanya mudah dipahami dan mengandung sarat gaya bahasa.
Masalah yang diteliti adalah (1) gaya bahasa apa sajakah yang terdapat dalam novel AAC karya Habiburraman El Shirazy, (2) gaya bahasa apakah yang dominan, dan (3) bagaimana implikasi novel AAC terhadap pengajaran sastra di SMA  Sedangkan tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi gaya bahasa yang terdapat dalam novel AAC karya Habiburraman El Shirazy, mendeskripsi gaya bahasa yang dominan, dan memaparkan implikasi novel AAC  terhadap pengajaran sastra di SMA.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan stilistika. Pendekatan stilistika digunakan untuk menganalisis penggunaan sistem tanda yang mengandung ide, gagasan dan nilai estetis tertentu, sekaligus untuk memahami makna yang dikandungnya. Data penelitian ini berupa penggalan teks dalam novel AAC yang diduga berisi kalimat-kalimat  bergaya bahasa tertentu.
Hasil yang didapat dalam penelitian ini adalah jenis gaya bahasa dalam novel AAC meliputi gaya bahasa klimaks, antiklimaks, paralelisme, antitesis, repetisi, hiperbola, silepsis, aliterasi, litotes, asonansi, eufemisme, pleonasme, paradoks, retoris, personifikasi, ironi, sarkasme, metafora, permpamaan/simile dan metonimia. Gaya bahasa yang dominan dalam novel AAC adalah gaya bahasa hiperbola.  Implikasi gaya bahasa dalam novel AAC  terhadap pengajarangan sastra di SMA adalah dititikberatkan pada  sumber bahan ajar.
Penelitian  gaya bahasa dalam novel AAC karya Habiburraman El Shirazy merupakan penelitian awal sehingga perlu penelitian lanjut. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai sumbangan  dalam pengembangan di dunia pendidikan terutama di bidang sastra.  Gaya bahasa dalam novel AAC sangatlah berguna untuk pengembangan bahan ajar, khususnya terhadap pengajaran sastra  SMA.
Novel merupakan karya seni yang sangat erat berhubungan dengan kehidupan manusia dan berupa gambaran perjalanan hidup manusia. Sebagai karya seni, novel terdapat  pelajaran bagi pembaca dan dapat  dinikmati sebagai bahan referensi serta instrospeksi diri.  Melalui bahasa, novel mudah dipahami dan dicerna oleh para pembaca karena gaya bahasanya.
Sebuah novel dapat dijadikan bahan untuk mempelajari kehidupan manusia yang sesungguhnya. Berbagai sifat manusia dan gambaran hidup terekam semua dalam sebuah novel. Gambaran hidup yang terekam dalam sebuah novel acap terwujud dalam bentuk konflik. Konflik tersebut berupa konflik antartokoh yang dipaparkan pengarang melalui gayanya sendiri. Secara umum dapat dijabarkan bahwa problem itu timbul apabila ada perbedaan atau konflik antara keadaan atau konflik antara keadaan satu dengan yang lain dalam rangka mencapai suatu tujuan.  Oleh karena itu, melalui novel terdapat pesan-pesan atau hikmah lewat gaya bahasa yang dipungut dari kenyataan,
Gaya bahasa dalam novel merupakan  perwujudan  penggunaan bahasa oleh  penulis untuk mengemukakan gambaran, gagasan, pendapat, dan membuahkan efek tertentu bagi pembaca (Aminuddin 1997:1). Aktivitas penulisan, keberadaan diksi (pilihan kata) merupakan unsur penting. Persoalan diksi bukan hanya menyangkut pemilihan kata secara tepat dan sesuai, melainkan juga persoalan gaya bahasa dan ungkapan. Hal ini dapat dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Sering dijumpai  banyak orang kurang perbendaharaan kata sehingga mengalami kesulitan dalam mengungkapkan maksud (Wibowo 2001: 25).
Menurut Alwi et al (1991:11) penggunaan diksi harus berdasarkan tiga tolok ukur, yakni ketepatan, kebenaran, dan kelaziman. Memilih kata dengan tepat memungkinkan orang dengan cepat memahami apa yang dimaksudkan. Adapun kebenaran menyangkut pelafalan, pengejaan, atau pembentukan kata, sedangkan kelaziman adalah penggunaan bentuk bahasa tertentu yang terjadi karena pemakaian yang berulang-ulang.
Penelitian ini merupakan bagian dari langkah untuk memahami gaya bahasa berdasarkan jenis gaya bahasa, dominasi dan implikasi gaya bahasa terhadap pengajaran sastra di SMA. Kenyataannya bahan pengajaran yang disajikan guru kurang aktual. Hal ini berakibat siswa bosan, karena guru kurang kreatif dan inovasi dalam pengajaran sastra. Seperti yang dikemukakan oleh Muis bahwa (2007), guru harus mandiri dan kreatif. Guru harus menyeleksi bahan ajar yang digunakan dalam pembelajaran sesuai dengan kurikulum sekolahnya.
Guru dapat memanfaatkan bahan ajar dari berbagai sumber (surat kabar, majalah, radio, televisi, internet, dsb.). Bahan ajar dikaitkan dengan isu-isu lokal, regional, nasional, dan global agar peserta didik nantinya mempunyai wawasan yang luas dalam memahami dan menanggapi berbagai macam situasi kehidupan.
Sudah barang tentu bahwa tuntutan kepada guru sebagai aktor di kelas sangat besar. Guru harus mampu mengembangkan Kompetensi Dasar yang terdapat dalam KTSP. Sejumlah kompetensi dalam KTSP tidak boleh dikurangi, akan tetapi dapat ditambah sesuai dengan pengembangan materi, tuntutan lingkungan setempat.
Kenyataannya, masih ada guru dalam mengajarkan mata pelajaran Bahasa Indonesia khususnya sastra hanya terpaku pada buku-buku yang sudah ada di silabus, padahal banyak materi atau bahan ajar di luar silabus, seperti buku-buku dan novel yang aktual. Bahan ajar yang lebih aktual dapat memberikan daya tarik lebih kuat pada siswa. Apalagi teknik yang digunakan guru dalam menyampaikan materi pelajaran sangat menarik dan invovatif, tentunya siswa dapat terimajinasi yang menyenangkan. Seperti halnya novel  dalam novel Ayat-Ayat Cinta (AAC) karya Habiburaman El Syirazy, yang saat ini sedang menanjak pamornya, dapat dijadikan sebagai bahan.
Berkaitan dengan pembelajaran yang ditekankan pada keterampilan berbahasa mengacu pada KTSP dapat dikemukakan dua temuan penting, yaitu (1) pembelajaran dapat berlangsung dengan baik dan siswa mencapai hasil yang diharapkan. Hal itu antara lain disebabkan: (a) guru memiliki kemampuan yang baik dan sering memotivasi siswa; (b) guru melakukan penilaian atas kemahiran berbahasa yang ditunjukkan siswa; (c) raw input siswa memang baik. (2) kegiatan pembelajaran kurang efektif. Hal itu diduga karena (a) kemahiran yang ditunjukkan siswa tidak dinilai dan (b) guru kurang memberikan motivasi kepada siswa (Diknas 2006:45).
Dipilihnya novel AAC sebagai sumber penelitian adalah didasarkan atas kemunculan dan kesuksesan  novel AAC karya Habiburraman El Shirazy. Beberapa pandangan yang digunakan peneliti sebagai pendukung sumber ini antara lain pandangan menarik itu diungkapkan doktor Ilmu Sastra Unnes, Teguh Supriyanto  (Wawasan,2008) bahwa, “Dari aspek sastra, novel ini biasa-biasa saja, tema tetap hitam-putih, yang baik menang dan yang buruk kalah, tidak ada kejutan-kejutan sas­trawi. Tetapi novel ini memang diuntungkan faktor momen.
Ustadz H. Abu Ridho, dalam Bedah Ayat-Ayat Cinta di Munas PKS 2005 berpandangan bahwa, “Aya-ayat Cinta merupakan  novel yang sangat bagus dan lengkap kandungannya. Ini bukan hanya novel sastra dan novel cinta, tapi juga novel politik, novel budaya, novel religi, novel fikih, novel etika, novel bahasa, dan novel dakwah. Sangat bagus untuk dibaca siapa saja.” (Makalah, 2007) Hal ini juga didukung oleh pandangan Baidan. Dalam Fenomena Ayat-ayat Cinta (2008:24)
“Nuansa Islam yang amat kental mengukuhkan novel ini sebagai media dakwah. Banyak hikmah yang dapat dipetik, terutama mengenai bagaimana berinteraksi dengan sesama manusia, baik muslim maupun nonmuslim, muhrim dan bukan muhrim. Tersusun dalam bahasa yang indah dan halus. Tiap kejadian tersusun secara kompak, satu kejadian akan berhubungan dengan kejadian selanjutnya. Nyaris tidak ada kejadian yang sia-sia. Tiap babnya menghadirkan kejutan-kejutan tersendiri, hingga pembaca dibuat penasaran untuk terus mengikuti kisahnya dari awal hingga akhir….”
Tanggapan yang senada  mengagumi novel AAC karya Habiburraman El Shirazy masih banyak lagi. Meledaknya novel karya Habiburrahman El Shirazy itu, tak sempat dikupas tuntas, lantaran film adaptasi dari novelnya juga meledak, dan sempat mengalihkan perhatian masyarakat. Diakui atau tidak, kesuksesan AAC adalah momentum puncak dari sebuah aliran sastra, yakni sastra Islami.Hal lain novel AAC  dipilih sebagai sumber penelitian adalah bahasanya mudah dipahami dan mengandung sarat gaya bahasa. Gaya bahasa yang disajikan dalam novel AAC sangat mudah ditemukan.
Masalah yang akan diungkap dalam pembahasan ini adalah (1) Gaya bahasa apa sajakah  yang  terdapat  dalam  novel  AAC karya Habiburraman El Shirazy? (2) Gaya bahasa apakah yang dominan dalam novel AAC? dan (3) Bagaimana implikasi novel AAC terhadap pengajaran sastra di SMA. Sedangkan tujuannya adalah (1) mengidentifikasi  gaya  bahasa  yang  terdapat   dalam   novel    AAC, (2) mendeskripsi gaya bahasa yang dominan dalam novel AAC, dan (3) memaparkan implikasi novel AAC terhadap pengajaran sastra di SMA.
Penelitian  ini diharapkan dapat bermanfaat, yaitu bermanfaat secara teoretis dan praktis. Adapun manfaat dalam penelitian ini secara  teoretis adalah dapat dijadikan pijakan awal dalam memahmi novel AAC. Dengan pemahaman ini pembaca semakin mudah secara teoretis terhadap perkembangan penelitian stilistika. Pembahasan gaya bahasa dalam novel AAC adalah satu upaya mengungkap dan menambah khasanah bagi studi linguistik. Manfaat lainnya  adalah sebagai model analisis stilistika yakni bidang kajian tentang gaya bahasa dan deskripsi sistemis tentang gaya bahasa.
Secara praktis, bagi para guru hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai salah satu arternatif bahan ajar dalam pengajaran sastra di SMA. Hal ini mengingat bahwa bahan ajar yang ada di sekolah kurang mamadai. Oleh karena itu kajian  novel AAC tentunya dapat dijadikan sebagai materi tambahan.
Hasil penelitian ini juga dapat bermanfaat bagi guru sebagai referensi pengajaran gaya bahasa sebagai unsur intrinsik dalam novel.  Novel AAC terdapat pesan-pesan yang mulia yang harus disampaikan kepada siswa.
Gaya bahasa menurut Pradopo (1997:93) adalah susunan perkataan yang terjadi karena perasaan yang timbul atau hidup dalam hati penulis, yang menimbulkan suatu perasaan tertentu  dalam hati pembaca. Tiap pengarang mempunyai gaya sendiri. Hal ini sesuai dengan sifat dan kegemaran masin-masing pengarang.
Menurut  Sayuti (2000:173) gaya bahasa merupakan cara pengungkapan seorang yang khas bagi seorang pengarang. Gaya seorang pengarang tidak akan sama bila dibandingkan dengan gaya pengarang lainnya, karena pengarang tertentu selalu menyajikan hal-hal yang berhubungan erat dengan selera pribadinya dan dan kepekaannya terhadap segala sesuatu yang ada di sekitarnya.
Gaya bahasa menurut Keraf (2008:113) adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis.. Kekhasan itu dipengaruhi oleh teks yang digunakan oleh penulis/pengarang ketika menghadapi pembaca. Hal itu dilakukan agar materi yang disajikan tidak menimbulkan salah tafsir, karena kesalahan dalam menafsirkan menimbulkan persoalan baru.
Menurut Sudjiman (1993:19-20) gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa dalam konteks tertentu, oleh orang tertentu, dan untuk maksud tertentu, sehingga dapat dipahami bahwa penggunaan gaya bahasa mempertimbangkan ketiga hal tersebut, bahkan penggunaan gaya bahasa itu ditentukan oleh siapa yang dituju. Hal itu menandakan bahwa memahami konteks dan materi adalah hal utama, karena berbekal memahami hal tersebut dapat dijadikan bekal untuk meminimalisasi kesalahpahaman dan menjauhkan dari konflik di balik materi yang tersaji.
Aminuddin (2004:72) mengatakan bahwa gaya bahasa pada dasarnya berhubungan erat dengan cara seseorang pengarang dalam menampilkan gagasannya. Gagasan tersebut dituangkan dalam karya tertulis sehingga tampak tampilan gaya bahasanya. Hal itu dapat dinyatakan bahwa setiap penulis wacana memiliki karakter penulisan, karena setiap orang memiliki gaya yang dilatarbelakangi oleh pengalaman, latar belakang keilmuan, dan target yang dituju pada setiap gaya bahasanya.
Selanjutnya, menurut Suparman (1997:73) gaya bahasa adalah pernyataan dengan pola tertentu, sehingga mempunyai efek tersendiri terhadap pemerhati. Dengan pola materi akan menimbulkan efek lahiriah (efek bentuk), sedangkan dengan pola arti (pola makna) akan menimbulkan efek rohaniah.
Waridah (2008:322) berpendapat bahwa gaya bahasa adalah gaya seseorang pada saat mengungkapkan perasaannya baik secara lisan maupun tulis dan dapat menimbulkan reaksi pembaca berupa tanggapan. Gaya bahasa berdekatakan dengan majas. Majas merupakan bahasa kias, sehingga majas berada dalam gaya bahasa.
Berdasarkan keenam pendapat itu peneliti menyimpulan bahwa gaya bahasa adalah cara pengarang  menyampaikan/mengungkapkan pikiran dan maksud dengan menggunakan media bahasa indah. Pengungkapan itu dalam konteks tertentu, oleh orang tertentu, dan untuk maksud tertentu, serta mampu memberikan kesan suasana yang menyentuh daya emosi pembaca. Gaya bahasa akan mendapat reaksi  yang berupa tanggapan dari pembaca atau pendengar. Perbedaan keduanya adalah gaya bahasa merupakan gaya seseorang mengungkapkan bahasa baik langsung maupun tidak langsung (kias), sedangkan majas gaya bahasa yang cenderung gaya seseorang yang secara tidak langsung (kias).
Menurut Aminuddin (1997:21) stilistika merupakan kajian linguistik modern. Kajiannya meliputi hampir semua fenomena kebahasaan  hingga makna. Sehingga wacana (teks) dalam novel AAC merupakan bagian dari kajian linguistik modern dan termasuk fenomena bahasa beserta  beserta makna yang dikandungnya.
Selanjutnya menurut Leech dalam Aminuddin (1999: 27) stilistika secara sederhana dapat diartikan sebagai kajian linguistik yang objeknya  berupa gaya yaitu cara penggunaan bahasa dari seseorang dalam konteks tertentu dan untuk tujuan tertentu.
Sementera itu menurut Wallek  (1980: 57) stilistika adalah kajian  yang memusatkan perhatian pada hal-hal yang menyimpang dari kebiasaan dari kekhusukan. Kekhususan itu dalam penelitian ini adalah bagaimana pengarang menggunakan gaya bahasa dalam novel AAC.
Menurut Nurgiantoro (2000: 270) stilistika ditandai dengan oleh ciri-ciri formal kebahasaan  seperti pilihan kata, struktur kalimat, bentuk bahasa figuratif, penggunaan kohesi dan lain-lain sekaligus untuk mendapatkan keindahan yang menonjol. Keindahan dalam novel AAC bertujuan untuk mengikat pembaca sehingga mereka memahami pesan-pesan dengan baik. Pesan pengarang sangatlah penting bagi pembaca. Tanpa memahami pesan yang disampaikan tentunya tidak akan dapat menikmati dengan baik.
Menurut Kutha (2007: 236) stilistika berasal dari kata style yakni ilmu tentang gaya bahasa yang secara khusus dikaitkan dengan karya sastra. Selanjutnya dalam analisis Kutha  stilistika meliputi semua ekspresi dan teknik yang bertujuan memberikan penjelasan yang ada pada semua bahasa. Untuk menganalisis bentuk stilistika  dilakukan dengan cara pertama, analisis sistemis sistem sastra/bahasa yang dilanjutkan dengan analisis, dan kedua  mengamati perbendaan antara gaya bahasa dengan bahasa yang digunakan secara umum.. Kedua analisis tersebut bertujuan  untuk memahami pandangan pengarang  dalam menuangkan ide dan memahami teks secara menyeluruh  dari aspek kebahasaan.


Pengajaran Sastra  di SMA
Dunia pendidikan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini diramaikan oleh pergantian kurikulum. Kurikulum yang berlaku sampai tahun 2006 adalah Kurikulum 1994. Kurikulum ini mengalami penyempurnaan dan hasil penyempurnaan ini adalah Kurikulum 2004 atau juga dikenal dengan sebutan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Ketika KBK ramai dibicarakan dan muncul buku-buku pelajaran yang disusun berdasarkan kurikulum ini, muncul KTSP atau Kurikulum 2006 merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 2004 atau yang juga dikenal dengan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Seperti KBK, KTSP berbasis kompetensi.
KTSP memberikan kebebasan yang besar kepada sekolah untuk menyelenggarakan program pendidikan yang sesuai dengan (1) kondisi lingkungan sekolah, (2) kemampuan peserta didik, (3) sumber belajar yang tersedia, dan (4) kekhasan daerah. Dalam program pendidikan ini, orang tua dan masyarakat dapat terlibat secara aktif.
.           KTSP atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah kurikulum operasional yang disusun, dikembangkan, dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan dengan memperhatikan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Kurikulum ini juga dikenal dengan sebutan Kurikulum 2006 karena kurikulum ini mulai diberlakukan secara berangsur-angsur pada tahun ajaran 2006/2007. Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah harus sudah menerapkan kurikulum ini paling lambat pada tahun ajaran 2009/2010.
Upaya penyempurnaan kurikulum ini guna mewujudkan peningkatan mutu dan relevansi pendidikan yang harus dilakukan secara menyeluruh mencakup pengembangan dimensi manusia Indonesia seutuhnya, yakni aspek-aspek moral, akhlak, budi pekerti, pengetahuan, keterampilan, kesehatan, seni dan budaya. Pengembangan aspek-aspek tersebut bermuara pada peningkatan dan pengembangan kecakapan hidup yang diwujudkan melalui pencapaian kompetensi peserta didik untuk bertahan hidup serta menyesuaikan diri dan berhasil dalam kehidupan. Kurikulum ini dikembangkan lebih lanjut sesuai dengan kebutuhan dan keadaan daerah dan sekolah. Kebutuhan itulah yang dikemas dalam bentuk standar kompetensi.
Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran bahasa, bahwa belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaannya. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, baik secara lisan maupun tertulis serta menimbulkan penghargaan terhadap hasil cipta manusia Indonesia. Standar kompetensi ini dimaksudkan agar siswa siap mengakses situasi multiglobal lokal yang berorientasi pada keterbukaan dan kemasadepanan.
Kurikulum ini diarahkan agar siswa terbuka terhadap beraneka ragam informasi yang hadir di sekitar kita dan dapat menyaring yang berguna, belajar menjadi diri sendiri, dan siswa menyadari akan eksistensi budayanya sehingga tidak tercerabut dari lingkungannya.
Standar kompetensi tersebut disiapkan dengan mempertimbangkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara serta sastra Indonesia sebagai hasil cipta intelektual produk budaya, yang berkonsekuensi pada fungsi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai:
1.         sarana pembinaan kesatuan dan persatuan bangsa,
2.         sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya,
3.         sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan untuk meraih dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni,
4.         sarana penyebarluasan pemakaian bahasa Indonesia yang baik untuk berbagai keperluan menyangkut berbagai masalah,
5.         sarana pengembangan penalaran, dan
6.         sarana pemahaman beraneka ragam budaya Indonesia melalui khazanah kesusasteraan Indonesia.
Secara umum tujuan pengajaran sastra adalah sebagai berikut:
1.         Siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
2.         Siswa menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
Kompetensi dasar yang dapat diimplikasikan dalam pembelajaran sastra sebagai berikut.
1.         Kelas X
2.         Kelas XI
3.         Kelas XII
·         menganalisis keterkaitan unsur intrinsik suatu cerpen dengan kehidupan sehari-hari
·         mengidentifikasi karakteristik dan   struktur unsur intrinsik sastra.
·         menganalisis unsur-unsur intrinsik  dan ekstrinsik novel Indonesia.
·         Membandingkan unsur intrinsik  dan ekstrinsik novel Indonesia/ terjemahan dengan hikayat
·         menjelaskan unsur-unsur intrinsik cerpen
Mengingat bahasa ajar KTSP dikembangkan dan disusun oleh satuan pendidikan atau sekolah sesuai dengan kondisinya masing-masing, setiap sekolah mempunyai kurikulum yang berbeda. Dengan demikian, bahan ajar yang digunakan juga mempunyai perbedaan. Tidak ada ketentuan tentang buku pelajaran yang dipakai dalam KTSP. Buku yang sudah ada dapat dipakai. Karena pembelajaran didasarkan pada kurikulum yang dikembangkan sekolah, bahan ajar harus disesuaikan dengan kurikulum tersebut. Oleh karena itu, guru dapat menambah isi buku pelajaran yang digunakan.
Implikasi Gaya Bahasa dalam Novel AAC terhadap Pengajaran Sastra di SMA
Dari kelima Kompetensi Dasar (KD) dapat dikembangkan melalui novel AAC sebagai alternatif bahan ajar novel Indonesia.. Gaya bahasa yang terdapat dalam novel AAC merupakan bagian unsur intrinsik, sehingga gaya bahasa ini berimplikasi terhadap pengajaran sastra di SMA. Berkaitan dengan gaya bahasa dalam novel AAC dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengapresiasi karya sastra untuk mempertajam perasaan, meningkat penalaran,. dan daya imajinasi, serta meningkatkan kepekaan terhadap masyarakat dan lingkungan hidup.
Barkaitan dengan hal itu, guru mempunyai ciri-ciri khas dalam menyampaikan materi pelajaran di depan kelas. Dari ciri tersebut guru mempunyai strategi yang baik dan dapat menggugah gairah siswa untuk mengikuti pelajaran dengan baik.  Tuntut inilah yang para guru harus mereposisi bagaiamana mengajara yang baik, khususnya  guru BI dalam pengajaran sastra.
Menurut Gani (1998:294) bahwa pengajaran sastra mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi perilkau secara langsung.. Selanjutnya Gani mengatakan bahwa pengajaran sastra terdapat enam wilayah  respon siswa dalam proses belajara mengajara sastra yaitu:
o    Penilaian sastra, siswa  menilai sastra dan kualitas estetiknya..
o    Penafsiran sastra, siswa berupaya mengungkapkan makna sebuah cerita dan motif perwatakannya.
o    Penyimpulan sastra, siswa menyimpulkan peristiwa-peristiwa yang terkandung dalam sebuah cipta sastra.
o    Pengasosian sastra, siswa menghubungkan pengalaman pribadinya dengan orang-orang, tempat-tempat, dan peristiwa yang terkait dalam sebuah karya sastra.
o    Pelibatan dalam sastra, siswa mengidentifikasi dirinya dengan pengalaman-pengalaman dari emosinya.
o    Penjabaran sastra, siswa menentukan apa yang harus dilakukan
Pengajaran sastra termasuk dalam tiga kategori yaitu rahah kognitif, ranah, afektif, dan ranah psikomotor. Ranah kognitif terdapat respon yang diberikan siswa berbentuk penafsiran terhadap apa yang yang telah dibaca, sehingga ranah ini paling awal dalam proses belajar mengajar. Guru bisa menilai siswa secara sepintas pengetahuan yang diperoleh dari hasil membaca karya sastra. Ranah afektif  terdapat respon yang diberikan siswa atas pelibatan terhadap karya sastra yang dibacanya, sehingga guru dapat mengetahui perubahan apa yang terjadi pada diri siswa setelah membaca karya sastra. Ranah psikomotor terdapat respon yang diberikan siswa bagaimana  dapat menerapkan nilai-nilai karya sastra dalam kehiudpan sehari-hari.


Teknik pengajaran sastra di SMA dan implikasinya secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut:
§   Guru membatasi tujuan dalam pengajaran sastra yaitu gaya bahasa. Implikasinya guru membimbing siswa senantiasa mengetahui dengan jelas tujuan yang akan dipelajari. Pembiasaan ini dapat membantu siswa berfikir kritis dan bekerja dengan konsisten dengan pencapaian tujuan-tujuan.
§   Guru memfokuskan  pada proses belajar mengajar. Implikasinya guru mendorong siswaagar meningkatkan keterampilan membaca pemahamannya dalam bentuk kegiatan terstruktur dan mandiri, sehingga siswa secara tepat dapat memberikan respon dan analisisnya.
§   Guru menempatkan teks dalam satu fokus yaitu  dengan meminta hasil pencarian gaya bahasa. Implikasinya siswa harus terlatih dalam dua hal yaitu  terampil membuat catatan kecil dari hasil analisis dan terampil membaca estetik.
§   Dalam rangka peningkatan citarasa sastra siswa, guru perlu senantiasa kreatif meningkatkan  proses berpikir siswa. Implikasinya dalam proses diskusi  hasil analisis gaya bahasa, guru harus selalu mengikuti dengan cermat jalannya diskusi. Guru hendaknya jangan terlalu berorientasi pada hasil diskusi, akan tetap mengaktifkan diskusi.
§   Sering kali proses pengajaran sastra langsung mengacu pada hal yang abstrak, tanpa melalui tahapan yang konkret. Implikasinya siswa kehilangan persepsi dalam merespon dan mengalaisis gaya bahasa  yang disajikan guru
§   Guru harus dengan sabar membimbing siswa menemukan gaya bahasa sesuai dengan tujuan yang telah disampaikan. Implikasinya guru hendaknya membantu siswa dengan memberikan rambu-rambu yang praktis dan menantang
§   Pada akhir kegiatan guru membantu siswa dalam merumuskan simpulan dari pembelajaran. Implikasinya guru mampu mengarahkan agar simpulan yang disailkan siswa lebih baik dan terarah sesuai dengan tujuan pengajaran.
Profesionalisme guru sangat menentukan keberasilan belajar siswa. Menurut Hamalik (1990), profil kemampuan dasar guru mencakupi:
a.         kemampuan menguasai bahan,
b.         kemampuan mengelola program belajar-mengajar,
c.         kemampuan mengelola kelas,
d.        kemampuan menggunakan media dan sumber;
e.         kemampuan menguasai landasan pendidikan,
f.          kemampuan menilai prestasi belajar siswa,
g.         kemampuan mengelola interaksi belajar-mengajar, dan sebagainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar