Jumat, 27 April 2012

Contoh SKRIPSI


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Keberhasilan proses dan hasil pembelajaran di kelas dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain adalah guru dan siswa. Apabila guru berhasil menciptakan suasana yang menyebabkan siswa termotivasi aktif dalam belajar akan memungkinkan terjadi peningkatan hasil belajar. Karena dengan motivasi ini, siswa dapat tergerak  dan terpacu keinginan dan kemauannya untuk meningkatkan prestasi belajarnya.
Mata pelajaran biologi dianggap sulit karena dalam pembelajaran biologi, guru pada umum cenderung memberikan seluruh materi pembelajaran kepada siswa. Hal ini mengakibatkan siswa menjadi kurang bersemangat pada saat pembelajaran berlangsung sehingga mereka tidak aktif karena tidak ada tantangan dari guru terhadap materi yang diberikan dan ini juga berdampak pada hasil belajar mereka yang menjadi rendah. Hal seperti uraian di atas juga terjadi di SMAN 1 Pasaman, dimana siswa kurang aktif dan kurang termotivasi dalam belajar.

 
Berdasarkan informasi yang penulis peroleh dari salah seorang guru biologi dan beberapa orang siswa di SMAN 1 Pasaman, dalam proses pembelajaran, guru lebih sering menggunakan metode ceramah dan diskusi. Selain itu, siswa juga kurang berminat mengerjakan tugas, baik tugas rumah maupun tugas di sekolah. Ini mengakibatkan, hasil belajar yang mereka peroleh menjadi rendah dan juga kurangnya motivasi belajar dari  mereka. Realita yang kurang memuaskan tersebut dapat dilihat dari nilai rata-rata UH 1 mata pelajaran biologi kelas X siswa SMAN 1 Pasaman. Dari nilai rata-rata UH 1 tersebut masih ada kelas yang memiliki nilai yang masih berada di bawah KKM yng telah di tetapkan sekolah yaitu 65. Ini dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Jumlah siswa dan nilai rata-rata UH 1 mata pelajaran biologi kelas X SMAN 1 Pasaman tahun pelajaran 2009/2010
No
Kelas
Jumlah
Nilai Rata-Rata
1.
X1
41 orang
81,54
2.
X2
45 orang
69,02
3.
X3
44 orang
63,23
4.
X4
44 orang
58,20
5.
X5
43 orang
48,12
6.
X6
43 orang
74,35
7.
X7
44 orang
60,37
  (Sumber: Guru Biologi SMAN 1 Pasaman)
Untuk mengatasi masalah ini, perlu diterapkan pembaharuan dalam pembelajaran biologi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan guru untuk membantu siswanya supaya aktif dan lebih memahami materi yang disampaikan oleh guru adalah dengan menggunakan metode dan strategi yang tepat dalam pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Seperti disampaikan oleh Sabri (2007: 1) yang menyatakan bahwa strategi digunakan sebagai upaya guru dalam menciptakan suatu sistem lingkungan yang mungkinkan terjadinya proses pembelajaran agar tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan dapat tercapai dan berhasil guna.
Salah satu metode dan strategi yang dapat digunakan agar siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran adalah dengan menggunakan pembelajaran aktif. Pembelajaran aktif adalah segala bentuk pembelajaran yang memungkinkan siswa berperan secara aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri baik dalam bentuk interaksi antar siswa maupun siswa dengan guru (Samadhi, tanpa tahun: 2).
Pembelajaran  aktif  (active  learning)  adalah  proses  belajar  dimana siswa mendapat  kesempatan  untuk  lebih  banyak melakukan  aktivitas  belajar,  berupa hubungan  interaktif  dengan  materi  pelajaran  sehingga  terdorong  untuk menyimpulkan  pemahaman  daripada  hanya  sekedar menerima  pelajaran  yang diberikan.  Meyer dan Jones (tanpa tahun) dalam Ramdhani (2008: 1) mengemukakan  bahwa  “dalam pembelajaran  aktif terjadi aktivitas berbicara dan mendengar, menulis, membaca, dan refleksi yang menggiring ke arah pemaknaan mengenai isi pelajaran, ide-ide, dan berbagai hal yang berkaitan dengan  satu  topik  yang  sedang dipelajari”. Jadi, dalam pembelajaran aktif, guru lebih berperan sebagai fasilitator bukan pemberi ilmu. Pada pembelajaran  aktif ini, siswa tidak hanya belajar  sendiri  tetapi  mereka  dapat  belajar  dengan  pendampingan  guru selaku instruktur atau teman sekelasnya. Salah satu tipe pembelajaran aktif ini adalah Bowling Campus.
Pada penelititan sebelumnya mengenai pembelajaran aktif tipe Bowling Campus yang diteliti oleh Pitriana (2009: 42) ini dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitiannya menyatakan bahwa pembelajaran yang menggunakana pembelajaran aktif tipe Bowling Campus menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar biologi siswa kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol. Tingginya rata-rata hasil belajar ini dikarenakan dalam proses pembelajaran aktif tipe Bowling Campus, siswa lebih aktif dan antusias dalam mengikuti pembelajaran, siswa menyenangi pembelajaran yang diberikan karena bersifat permainan.
Pembelajaran aktif tipe Bowling Campus merupakan alternatif peninjauan ulang materi dengan cara adu kecepatan dalam menjawab pertanyaan dalam bentuk permainan. Siswa dapat mengingat kembali materi yang telah dipelajarinya dengan baik, memungkinkan siswa untuk berpikir tentang hal-hal yang dipelajari, berkesempatan berdiskusi dengan teman dan berbagi pengetahuan yang diperoleh. Menurut Silberman tentang pembelajaran aktif tipe Bowling Campus (2006: 249) adalah Salah satu cara yang pasti untuk membuat pembelajaran tetap melekat dalam pikiran adalah dengan mengalokasikan waktu untuk meninjau kembali apa yang telah dipelajari. Materi yang telah dibahas oleh siswa cenderung lima kali lebih melekat di dalam pikiran dibandingkan materi yang tidak dibahas oleh siswa. Itu karena pembahasan kembali memungkinkan siswa untuk memikirkan kembali informasi tersebut dan menemukan cara untuk menyimpannya di dalam otak.
Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran aktif tipe Bowling Campus ini, dapat dilakukan dengan pemberian tugas kepada siswa. Ada beberapa macam tugas yang dapat diberikan kepada siswa, salah satunya adalah tugas rumah. Tugas rumah yang akan diberikan tersebut adalah berupa tugas membuat pertanyaan tentang materi yang akan dipelajari disertai dengan jawabannya. Pertanyaan yang dibuat tersebut berupa pertanyaan (soal) berbentuk uraian. Tugas yang diberikan ini berfungsi untuk menggali pengetahuan awal siswa sebelum materi dijelaskan dan didiskusikan di kelas. Tugas ini juga berfungsi untuk mengaktifkan siswa agar pada saat proses pembelajaran berlangsung, siswa tidak pasif karena sebelumnya siswa sudah mempelajari materi tersebut di rumah dengan membuat pertanyaan tentang materi yang akan dipelajari di sekolah nantinya.
Menggunakan pembelajaran aktif tipe Bowling Campus disertai tugas rumah diharapkan akan lebih baik dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa jika dibandingkan dengan hanya menggunakan pembelajaran aktif tipe Bowling Campus saja.  Karena dengan adanya tugas ini, siswa membaca dan mempelajari materi yang akan dibahas di sekolah nantinya. Jika siswa telah mempelajari materi di rumah, maka waktu diskusi akan lebih efektif karena materi yang dibahas adalah materi penting yang harus dikuasai siswa dan materi yang lainnya dapat dipelajari oleh siswa secara mandiri, sehingga ketika model pembelajaran aktif tipe Bowling Campus ini dilakukan maka proses pembelajaran akan menjadi lebih efektif. Pada penelitian sebelumnnya, model pembelajaran ini menjadi kurang efektif karena banyak waktu yang terpakai ketika diskusi sehingga waktu yang bersisa kurang  untuk melaksanakan pembelajaran aktif tipe Bowling Campus menjadi kurang.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian menggunakan pembelajaran aktif tipe Bowling Campus disertai tugas rumah terhadap hasil belajar biologi siswa kelas X siswa SMAN 1 Pasaman tahun pelajaran 2009/2010.



B.     Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukan di atsa, dapat diidentifikasi beberapa masalah dalam penelitian ini antara lain:
1.      Guru cenderung menggunakan metode secara monoton dalam menyampaikan materi pelajaran sehingga siswa kurang aktif dan tidak termotivasi dalam proses pembelajaran sehingga masih ada hasil belajar siswa yang masih rendah.
2.      Motivasi siswa masih rendah untuk meningkatkan hasil belajar karena siswa belajar hanya mengharapkan penjelasan dari guru.
3.      Banyak siswa beranggapan bahwa pelajaran biologi itu adalah mata pelajaran hafalan sehingga siswa tidak bisa memahami materi secara mendalam.
4.      Model pembelajaran Bowling Campus yang pernah diterapkan tetapi masih kurang efektif karena waktu yang untuk pembelajaran kurang.

C.    Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas dan agar penelitian ini lebih terarah, maka peneliti membatasi masalah penelitian yang hanya mencakup model pembelajaran aktif dan hasil belajar. Secara lebih rinci dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.      Model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran aktif tipe Bowling Campus. Diharapkan dengan menggunakan model pembelajaran tipe Bowling Campus ini siswa lebih aktif dan termotivasi dalam proses pembelajaran.
2.      Pemberian tugas rumah yang akan dilakukan adalah berupa tugas membuat pertanyaan berbentuk uraian yang disertai dengan jawabannya, yang diharapkan dapat membuat siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran dan juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
3.      Ada tiga ranah hasil belajar yaitu ranah kognitif, ranah psikomotor, dan ranah afektif namun dalam penelitian ini peneliti hanya melihat hasil belajar dari ranah kognitif yang diperoleh dari hasil tes pada akhir penelitian. Penelitian ini dilaksanakan pada kelas X di  SMAN 1 Pasaman.

D.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini yaitu:”Apakah terdapat pengaruh penggunaan pembelajaran aktif tipe Bowling Campus disertai tugas rumah terhadap hasil belajar biologi kelas X Siswa SMAN 1 Pasaman tahun pelajaran 2009/ 2010?”

E.     Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pembelajaran aktif tipe Bowling Campus disertai tugas rumah terhadap hasil belajar biologi kelas X Siswa SMAN 1 Pasaman tahun pelajaran 2009/2010.

F.     Asumsi
Landasan pemikiran yang dijadikan asumsi dasar penelitian ini adalah:
1.      Semua siswa mempunyai kesempatan yang sama dalam proses pembelajaran.
2.      Semua siswa memiliki sarana belajar atau buku yang sama berupa buku pegangan.
3.      Tugas rumah membuat pertanyaan bentuk uraian yang disertai jawabannya dapat dilaksanakan siswa.

G.    Kegunaan Penelitian
Setiap penelitian diharapkan bermanfaat bagi kemajuan pendidikan dimasa datang. Demikian juga dengan yang penulis laksanakan ini, diharapkan dapat bermanfaat sebagai:
1.      Bahan pertimbangan bagi pihak yang terkait dalam pengembangan metode dan model pembelajaran.
2.      Bahan masukan bagi badan perencanaan pendidikan dalam penyediaan sarana dan prasarana pendidikan di masa akan datang.
3.      Sebagai informasi bagi guru dan calon guru biologi SMAN 1 Pasaman khususnya dan para guru secara umum dalam memilih metode dan strategi pembelajaran.

H.    Definisi Operasional
Untuk menghindari kekeliruan terhadap beberapa istilah maka perlu dijelaskan beberapa hal:
1.      Pembelajaran aktif tipe Bowling Campus disertai tugas rumah merupakan pembelajaran yang memungkinkan siswa berperan aktif dalam proses pembelajaran. Dalam penelitian ini, pembelajaran aktif tipe Bowling Campus dilakukan dalam bentuk permainan adu kecepatan dan keterampilan dalam menjawab pertanyaan yang peneliti berikan dalam waktu yang telah ditentukan. Siswa yang mendapat kesempatan menjawab adalah siswa yang pertama kali mengacungkan kartu indeksnya. Kartu indeks ini digunakan sebagai tempat mencatat point setiap jawaban benar yang dijawab oleh siswa.
2.      Model pembelajaran aktif disertai tugas rumah yang diberikan pada siswa berfungsi agar pembelajaran menjadi lebih efektif lagi karena siswa sebelumnya telah membaca dan mempelajari materi pelajaran yang akan dibahas di sekolah. Tugas rumah yang dibuat oleh siswa berupa tugas membuat pertanyaan tentang materi yang akan dipelajari yang disertai jawabannya. Pertanyaan (soal) yang dibuat oleh anak didik berupa soal bentuk uraian.
3.      Hasil belajar adalah sesuatu yang diperoleh, dikuasai oleh siswa setelah proses pembelajaran berlangsung. Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil belajar Biologi yang dilihat dari segi penguasaan materi pelajaran (kemampuan kognitif). Hasil belajar ini diperoleh dari tes pada akhir penelitian. Materi pelajaran yang diberikan dalam penelitian ini adalah Ekosistem.






BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Kajian Teori
1.      Proses Pembelajaran
Biologi adalah ilmu yang mempelajari tentang segala sesuatu mengenai makhluk hidup. Pada mata pelajaran biologi yang merupakan bagian dari bidang sains, menuntut kompetensi belajar pada ranah pemahaman tingkat tinggi yang komprehensif (Wena, 2009: 67). Jadi, Proses pembelajaran biologi merupakan suatu kegiatan interaktif yang bernilai edukatif yang terjadi antara guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa dan antara siswa dengan lingkungannya. Interaksi yang bernilai edukatif ini berfungsi untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan sebelum pembelajaran dilakukan.
Pembelajaran merupakan kegiatan yang sangat penting dalam menentukan tujuan dari suatu pendidikan. Menurut Hilgard dan Bower (1987) dalam Jogiyanto (2006:12) pembelajaran adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena reaksi dari situasi yang dihadapi oleh seseorang. Dapat diartikan bahwa, proses pembelajaran itu terjadi karena pengalaman yang pernah dihadapi. Perubahan ini dimaksudkan untuk dapat membuat seseorang belajar.
Proses pembelajaran merupakan kegiatan yang sangat penting dalam menentukan pencapaian tujuan dari suatu pendidikan di sekolah. Pembelajaran merupakan segala daya dan upaya untuk dapat membuat seseorang belajar (Lufri, 2007: 10). Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu yang terjadi akibat interaksi dengan lingkungannya. Belajar merupakan suatu proses untuk mencapai tujuan dengan melakukan langkah-langkah atau prosedur yang ditempuh.
Belajar adalah suatu proses untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman seseorang dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003: 2). Belajar merupakan kegiatan yang penting yang dilakukan  setiap orang secara maksimal untuk menguasai dan memperoleh sesuatu. Menurut Sadiman, dkk (2006: 2), belajar adalah proses yang komplek, yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup. Salah satu tanda bahwa seseorang telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya, perubahan tingkah laku tersebut menyangkut perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor) maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif).
Menurut Purwanto (2007: 84-85) ada beberapa elemen yang penting yang mencirikan pengertian belajar, yaitu:
1.      Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku.
2.      Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman.
3.       Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus relatif mantap.
4.      Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis.

                                                    
Pendapat Purwanto di atas didukung oleh Sabri (2007: 19) yang menyatakan bahwa “Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan pelatihan”. Artinya tujuan kegiatan belajar ialah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan, sikap, bahkan meliput segenap aspek pribadi.
Gagne (tanpa tahun) dalam Dimyati (2002: 38) memandang kondisi internal belajar dan kondisi eksternal belajar yang bersifat interaktif. Oleh karena itu, guru seyogyanya bisa mengatur acara pembelajaran yang sesuai dengan fase-fase belajar dan hasil belajar yang dikehendaki. Piaget (tanpa tahun) dalam Dimyati (2002: 38) memandang belajar sebagai perilaku berinteraksi antara individu dengan lingkungan sehingga terjadi perkembangan intelek individu. Ada empat fase perkembangan intelektual seseorang, diantaranya adalah fase operasi formal, dimana siswa telah dapat berpikir abstrak sebagai orang dewasa. Oleh karena itu, ia menyarankan empat langkah acara pembelajaran, yang didalamnya terdapat kegiatan prediksi, eksperimentasi, dan eksplanasi.
Proses pembelajaran akan berlangsung lancar dan baik jika masing-masing komponen menyadari tugas dan tanggung jawabnya. Guru dan siswa harus tahu apa yang menjadi tugas mereka masing-masing. Antara guru dan siswa juga terdapat hubungan atau komunikasi dan saling mempengaruhi. Belajar yang terjadi pada individu merupakan perilaku kompleks, tindak interaksi antara guru dan siswa yang bertujuan (Dimyati, 2002: 39). Guru tidak hanya sebagai pemberi ilmu tetapi juga sebagai fasilitator pembelajaran. Sebagai fasilitator pembelajaran, guru harus paham dengan konsep pembelajaran baik dari segi psikologinya, lingkungan dan cara-cara atau metode dalam pembelajaran, sehingga cara-cara yang digunakan dalam pembelajaran tersebut cocok dan mengacu pada usaha pencapaian tujuan pendidikan. Begitu juga dengan siswa memiliki tanggung jawab untuk menguasai dan memperoleh pengetahuan baru untuk kemajuan dan perubahan tingkah lakunya menuju arah yang lebih baik.
Dalam melaksanakan tugasnya sebagai fasilitator pembelajaran, seorang guru harus mengacu pada tujuan akhir proses pembelajaran itu. Di sekolah, guru hendaknya dapat menggunakan strategi, pendekatan, metode, dan teknik yang banyak melibatkan siswa, sehingga siswa dapat aktif untuk belajar.

2.      Pembelajaran Aktif Tipe Bowling Campus
Selama ini proses pembelajaran lebih sering diartikan sebagai guru menjelaskan materi pelajaran dan siswa mendengarkan secara pasif. Namun telah banyak ditemukan bahwa kualitas pembelajaran akan meningkat jika para siswa peserta proses pembelajaran memperoleh kesempatan yang luas untuk bertanya, berdiskusi, dan menggunakan secara aktif pengetahuan baru yang diperoleh. Karena dengan cara ini, diketahui pula bahwa pengetahuan baru tersebut cenderung untuk dapat dipahami dan dikuasai secara lebih baik (Samadhi, tanpa tahun: 1).
Pembelajaran tidak hanya menekankan pada apa yang diajarkan tetapi juga bagaimana mengajarkannya. Banyak cara, metode atau model pembelajaran yang dapat dipergunakan dalam proses pembelajaran. Supaya pembelajaran mengena, maka metode atau model pembelajaran perlu dipilih dengan tepat.
Secara umum, metode pembelajaran dapat dibagi menjadi metode pasif dan metode aktif. Metode pasif yaitu metode pembelajaran satu arah dari guru ke siswa. Metode ini merupakan metode pembelajaran tradisional yang sering disebut lecturing. Metode aktif mendorong siswa untuk aktif berdiskusi di dalam kelas (Jogiyanto, 2006: 23).
Pembelajaran  aktif  (active  learning)  adalah  proses  belajar  dimana siswa mendapat  kesempatan  untuk  lebih  banyak melakukan  aktivitas  belajar,  berupa hubungan  interaktif  dengan  materi  pelajaran  sehingga  terdorong  untuk menyimpulkan  pemahaman  daripada  hanya  sekedar menerima  pelajaran  yang diberikan (Ramdhani, 2008: 1). Ini juga diungkapkan oleh Samadhi (tanpa tahun: 2) yang mendukung pendapat Ramdhani bahwa pembelajaran aktif adalah segala bentuk pembelajaran yang memungkinkan siswa berperan secara aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri baik dalam bentuk interaksi antar siswa maupun siswa dengan guru dalam proses pembelajaran tersebut.
Menurut Ramdhani (2008: 2) banyak  riset  yang  menunjukkan  bahwa  dibandingkan  dengan  pembelajaran tradisional  (belajar  satu  arah),  pembelajaran  aktif  ini memberikan  peluang  bagi siswa untuk dapat menyerap lebih banyak materi pelajaran, mengingat dan memahami lebih lama, dan yang terpenting adalah menyukai aktivitas belajar itu sendiri. Fink (2003) dalam Ramdhani (2008: 2) menyarankan bahwa siswa harus melakukan hal yang lebih  daripada  sekedar  mendengarkan.  Pada pembelajaran  aktif, siswa tidak  belajar  sendiri  tetapi  mereka  dapat  belajar  dengan  pendampingan  guru selaku instruktur atau teman sekelasnya. 
Meyer dan Jones (1993) dalam Ramdhani (2008: 1) mengemukakan  bahwa pada pembelajaran  aktif juga terjadi aktivitas berbicara dan mendengar, menulis, membaca, dan refleksi yang menggiring ke arah pemaknaan mengenai isi pelajaran, ide-ide, dan berbagai hal yang berkaitan dengan  satu  topik  yang  sedang dipelajari. Pada pembelajaran aktif, guru lebih berperan sebagai fasilitator bukan pemberi ilmu.
Menurut Bonwell (tanpa tahun) dalam Samadhi (tanpa tahun: 2), pembelajaran aktif memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:
1.      Penekanan proses pembelajaran bukan pada penyampaian informasi oleh guru melainkan pada pengembangan keterampilan pemikiran analitis dan kritis terhadap topik atau permasalahan yang dibahas.
2.      Siswa tidak hanya belajar secara pasif tetapi mengerjakan sesuatu yang berkaitan dengan materi pelajaran.
3.      Penekanan pada eksplorasi nilai-nilai dan sikap-sikap berkenaan dengan materi pelajaran.
4.      Siswa lebih banyak dituntut untuk berpikir kritis, menganalisa dan melakukan evaluasi.
5.      Umpan-balik yang lebih cepat akan terjadi pada proses pembelajaran.
Di samping karakteristik tersebut di atas, secara umum suatu proses pembelajaran aktif memungkinkan diperolehnya beberapa hal. Pertama, interaksi yang timbul selama proses pembelajaran akan menimbulkan positive interdependence dimana konsolidasi pengetahuan yang dipelajari hanya dapat diperoleh secara bersama-sama melalui eksplorasi aktif dalam belajar. Kedua, setiap individu harus terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan guru harus dapat mendapatkan penilaian untuk setiap siswa sehingga terdapat individual accountability. Ketiga, proses pembelajaran aktif ini agar dapat berjalan dengan efektif diperlukan tingkat kerjasama yang tinggi sehingga akan memupuk social skills.
Pembelajaran dengan metode aktif dapat meberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan dirinya sendiri dengan aktif berinteraksi di kelas tidak hanya sebagai pendengar saja. Salah satu contoh model pembelaran aktif adalah model pembelajaran aktif tipe Bowling Campus (Silberman, 2006: 261).
Model pembelajaran aktif tipe Bowling Campus merupakan alternatif dalam peninjauan ulang materi. Model pembelajaran tipe ini memungkinkan guru mengevaluasi penguasaan materi pelajaran siswa, dan bertugas menguatkan, menjelaskan, dan mengikhtisarkan poin-poin utama materi pelajaran. Menurut Silberman (2006:261-262) langkah-langkah atau prosedur dalam model pembelajaran aktif tipe Bowling Campus adalah sebagai berikut:
1.      Membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan tiga atau empat orang siswa
2.      Memberi setiap siswa sebuah kartu indeks. Siswa akan mengacungkan kartu mereka untuk menunjukkan bahwa mereka ingin mendapatkan kesempatan menjawab pertanyaan.
3.      Menjelaskan aturan untuk permainan yang akan diadakan:
a.       Acungkan kartu indeks jika ingin menjawab pertanyaan.
b.      Kartu indeks dapat diacungkan sebelum pertanyaan selesai dibacakan jika siswa sudah tahu jawabannya.
c.       Tim menilai satu angka untuk tiap jawaban anggota yang benar
d.      Jika jawaban yang diberikan salah, maka tim lain dapat mengambil alih untuk menjawab .
4.      Setelah semua pertanyaan diajukan, jumlahkan skor dan diumumkan pemenangnya.
5.      Meninjau materi yang belum jelas atau yang memerlukan penjelasan lebih lanjut berdasarkan jawaban pada permainan.
Pada penelitian ini, pembelajaran aktif tipe Bowling Campus dilaksanakan setelah siswa mengumpulkan laporan kelompoknya. Pada penelitian ini juga siswa akan diberi tugas rumah sebelum pembelajaran dilaksanakan. Tugas rumah ini berfungsi untuk menggali pengetahuan awal siswa sehingga pembelajaran aktif tipe Bowling Campus ini dapat lebih efektif. Tipe pembelajaran aktif ini dapat memberi pengaruh yang baik bagi siswa dalam mengukur kemampuan sendiri atau kelompok, kekurangan, kekeliruannya terhadap konsep yang mereka pelajari dan selanjutnya berusaha memperbaiki hasil belajarnya dengan bantuan dan bimbingan dari guru.
Pembelajaran aktif tipe Bowling Campus ini dapat dimodifikasi. Langkah-langkah yang peneliti modifikasi tersebut adalah:
a.       Guru membagi kelompok belajar siswa.
b.      Guru memberi nomor atau nama tiap kelompok.
c.       Guru membagikan kartu indeks untuk setiap siswa.
d.      Guru membagikan bahan ajar kepada tiap kelompok siswa.
e.       Guru membagikan Lembar Diskusi Siswa.
f.       Siswa disuruh untuk membuat laporan diskusi kelompok.
g.      Melaksanakan pembelajaran aktif tipe Bowling Campus.

3.      Metode Pemberian Tugas
Ada beberapa metode yang digunakan dalam pembelajaran, salah satunya adalah metode pemberian tugas atau penugasan. Pembelajaran dengan menggunakan metode pemberian tugas berarti guru memberi tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Menurut Lufri (2007: 37) metode pemberian tugas merupakan metode yang menugaskan kepada siswa untuk mengerjakan sesuatu dengan tujuan memantapkan, mendalami, dan memperkaya materi pelajaran. Tugas yang diberikan kepada siswa juga dapat berfungsi sebagai alat untuk menemukan suatu pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang relevan dengan tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan.
Metode pemberian tugas ini dapat mengembangkan kemandirian siswa, merangsang untuk belajar lebih banyak, membina disiplin ,dan tanggung jawab siswa, serta membina kebiasaan mencari dan mengolah sendiri informasi (Rustaman, 2003: 128). Tugas yang diberikan oleh guru kepada anak didik dalam metode pemberian tugas ini dapat dilakukan seperti: guru menyuruh anak didik membaca, membuat makalah, membuat kliping, membuat ringkasan, membuat tugas presentasi, tugas observasi, dan sebagainya (Lufri, 2007: 37).
Metode pemberian tugas ini juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan metode pemberian tugas menurut Lufri (2007: 37-38)adalah:
1.      Pengetahuan yang diperoleh anak didik dari hasil belajar sendiri akan dapat diingat lebih lama (mempunyai retensi yang lama).
2.      Anak didik berkesempatan memupuk perkembangan dan keberanian mengambil insiatif, bertanggunf jawab dan mandiri.
3.      Materi yang belum sempat dibahas dapat ditugaskan untuk belajar sendiri.
4.      Anak didik dapat menemukan hal-hal yang baru yang mungkin guru juga belum mengetahuinya.
5.      Dengan metode tugas ini dapat mengoptimalkan anak belajar.

Tugas tidak sama dengan pekerjaan rumah, tetapi jauh lebih luas dari itu. Tugas dapat dilaksannakan di rumah, di sekolah, di perpustakaan, dan tempat lainnya. Metode pemberian tugas merangsang anak aktif belajar baik secara individual maupun secara kelompok. Oleh karena itu tugas dapat diberikan secara individual atau secara kelompok (Sabri, 2007: 56).

4.      Tugas Rumah
Pada pemberian tugas, guru harus jelas dalam mendeskripsikan tugas untuk siswa. Misalnya, jika tugas harus diselesaikan oleh kelompok, sebaiknya guru juga mendeskripsikan tugas untuk anggota kelompok untuk menghindari adanya siswa yang tidak aktif. Sebaiknya tiap anggota kelompok melaporkan hasil yang dibuatnya sendiri disamping ada hasil yang merupakan laporan kelompok.
Untuk tugas yang diberikan oleh guru jangan sampai menjadi beban berat  bagi siswa atau merasa terpaksa melakukan tugas tersebut, apalagi mereka tidak tahu manfaat tugas yang dilakukan. Oleh karena itu, guru harus merancang tugas sebaik mungkin sehingga mereka merasakan manfaat yang besar dari tugas yang dilakukan. Setiap tugas yang dibuat anak didik harus dihargai oleh guru, diberikan umpan balik, misalnya dikoreksi, dikomentari, dan dinilai. Di samping itu, tugas yang diberikan  kepada anak didik harus jelas dan petunjuk-petunjuk yang diberikan harus terarah.
Tugas yang diberikan oleh guru dapat berupa tugas rumah. Menurut Winkel (1987: 182), tujuan guru memberi tugas rumah dapat bermacam-macam, antara lain supaya siswa dapat terlatih, mengolah kembali materi pelajaran, belajar membagi waktu dengan baik, belajar teknik-teknik studi yang efektif dan efisien, menggali pengetahuan awal siswa sebelum dilaksanakan pembelajaran di sekolah, dan lain-lain. Diupayakan dengan adanya pemberian tugas rumah ini dapat mengembangkan kreativitas dan rasa tanggung jawab serta kemandirian siswa.
Menurut Nasution (2008: 202) tugas rumah dianggap sebagai bagian yang penting dari pengajaran di SD maupun di pendidikan yang lebih tinggi. Tugas rumah bermacam-macam bentuknya.
  1. Tugas rumah sebagai belajar sendiri, misalnya mempelajari satu bab dari buku pelajaran, menterjemahkan bahasa asing, membaca dan menghafal sajak, dan sebagainya.
  2. Tugas rumah sebagai latihan, misalnya membuat soal matematika dan fisika yang sudah dipelajari aturan-aturan dan prinsip-prinsipnya.
  3. Tugas rumah juga dapat pula berbentuk “proyek” yakni ditugaskan mengumpulkan sejumlah bahan yang berhubungan dengan suatu masalah untuk menyusun suatu laporan, membuat percobaan, atau demonstrasi.
Pada umumnya tugas rumah dipandang sebagai unsur yang penting dalam pengajaran. Hasil belajar siswa banyak ditentukan sampai mana siswa melakukan pekerjaan rumahnya dengan baik dan jujur. Fungsi tugas rumah yang terpenting adalah mendorong siswa belajar sendiri.

5.      Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dengan proses belajar. Belajar merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan manusia sehingga terjadi perubahan tingkah laku pada dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut adalah hasil belajar. Seseorang yang belajar mengharapkan hasil belajar, berupa perubahan tingkah laku, pengetahuan, dan keterampilan yang bisa diterapkan dalam kehidupan. Bagi siswa, hasil belajar adalah gambaran untuk mengetahui apakah dirinya berhasil atau gagal dalam mempelajari suatu materi pembelajaran.
Menurut Sudjana (2004: 22), “Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya”. Horward Kingsley (tanpa tahun) dalam Sudjana (2004: 22) membagi tiga macam hasil belajar, yakni (1) keterampilan dan kebiasaan, (2) pengetahuan dan pengertian, dan (3) sikap dan cita-cita. Masing-masing jenis hasil belajar dapat diisi dengan bahan yang telah ditetapkan dalam kurikulum.
Sedangkan Gagne (tanpa tahun) dalam Sudjana (2004:22) membagi lima kategori hasil belajar, yakni:
1.      informasi verbal,
2.      keterampilan intelektual,
3.      strategi kognitif,
4.      sikap,
5.      keterampilan motoris.
Pada sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotoris (Sudjana, 2004: 22).



a.       Ranah Kognitif
Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Menurut Bloom (tanpa tahun) dalam Sudijono (2008: 49-50), segala upaya menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Dalam ranah kognitf itu terdapat enam jenjang proses berpikir, mulai dari jenjang terendah sampai dengan jenjanh tertinggi. Keenam jenjang tersebut adalah: (1) pengetahuan atau knowledge, (2) pemahaman atau comprehension, (3) penerapan atau application, (4) analisis atau analysis, (5) sintesis atau synthesis, dan (6) penilaian atau evaluation.
b.      Ranah Afektif
Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Beberapa pakar mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahan nya bila seseorang telah memiliki penguasaan kognitif tingkat tinggi. Ranah afektif ini oleh Krathwohl dan kawan-kawan (tanpa tahun) dikelompokkan menjadi lebih rinci lagi ke dalam lima jenjang, yaitu (1) receiving yaitu menerima atau memperhatikan, (2) responding yaitu menanggapi, (3) valuing yaitu menilai atau menghargai, (4) organization  yaiti mengatur dan mengorganisasikan, dan (5) characterization by a value or value complex yaitu karakterisasi dengan suatu nilai atau komplek nilai (Sudjana, 2008: 54-56).
c.       Ranah Psikomotor
Ranah psikomotor adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu.hasil belajar ranah psikomotori dikemukakan oleh Simpson (tanpa tahun) dalam Sudijono (2008: 57-58) yang menyatakan bahwa hasil belajar psikomotor ini tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu. Hasil belajar psikomotor ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajr kognitif dan afektif. Hasil belajar kognitif dan afektif akan menjadi hasil belajar psikomotor apabila siswa telah menunjukkan periaku atau perbuatan tertentu sesuai dengan makna yang terkandung dalam ranah kognitif dan afektifnya.

B.     Kerangka Konseptual
Berdasarkan latar belakang dan kajian teori yang telah dikemukakan, kerangka konseptual dalam penelitian ini adalah:
C.    Hipotesis
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah, peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut: “Pembelajaran aktif tipe Bowling Campus  disertai tugas rumah berpengaruh positif terhadap hasil belajar Biologi kelas X siswa SMA N 1 Pasaman tahun pelajaran 2009/ 2010”.






BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Jenis Penelitian
Penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian eksperimen. Penelitian eksperimen adalah penelitian yang mengadakan perlakuan (manipulasi) terhadap variabel penelitian (variabel bebas), dan kemudian mengamati konsekuensi perlakuan tersebut terhadap objek penelitian (variabel terikat). Model rancangan penelitian yang akan digunakan adalah Control Group Posttest Only Design yang disajikan pada tabel berikut:
Tabel 2. Rancangan penelitian
Kelas
Perlakuan
Posttest
Eksperimen
X
T2
Kontrol
-
T2
Sumber: Lufri (2007: 69-70)

Keterangan:
X   :  Perlakuan yang akan diberikan kepada kelas eksperimen dengan menggunakan pembelajaran aktif tipe Bowling Campus disertai Tugas Rumah.
-   :   Tidak diberi perlakuan, pembelajaran tanpa menggunakan pembelajaran aktif tipe Bowling Campus disertai Tugas Rumah.
T:   Tes akhir yang diberikan kepada kelas eksperimen dan kelas kontrol.

B.     Populasi dan Sampel
1.      Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMAN 1 Pasaman yang tersebar pada tujuh kelas, yaitu dari kelas X1, X2, X3, X4, X5, X6, dan X7.
2.      Sampel
Sebelum dilakukan pengambilan sampel, peneliti melakukan uji Anova terlebih dahulu terhadap nilai UH 1 Biologi. Sampel diambil dari kelas-kelas yang memiliki keragaman sama pada nilai rata-rata UH 1 Biologi pada semester satu. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik simple random sampling. Simple random sampling adalah pengambilan sampel yang dilakukan secara acak (Lufri, 2007: 83 ).  Langkah-langkah dalam pengambilan sampel penelitian adalah:
a.       mengambil nilai UH 1 mata pelajaran Biologi semester satu setiap siswa yang terdaftar di kelas X SMAN 1 Pasaman Tahun Pelajaran 2009/2010
b.      mengelompokkan nilai siswa sesuai dengan kelas yang ditempati
c.       menghitung nilai rata-rata  UH 1 mata pelajaran Biologi tiap kelas
d.      melakukan uji Anova  pada ketujuh kelas
e.       jika hasil uji Anova homogen, maka dapat diambil dua kelas secara acak sebagai kelas sampel.
f.       jika hasil uji Anova menyatakan bahwa populais tidak berasal dari sumber keragamana yang sama, maka dilakukan uji lanjut
g.      uji lanjut dilakukan dengan menggunakan uji DMRT terhadap semua kelas yang menjadi populasi
h.      dari hasil uji lanjut akan didapatkan beberapa kelas yang berasal dari sumber keragaman yang sama
i.        selanjutnya kelas sampel ditentukan secara acak.

Tabel 3. Jumlah siswa dan nilai rata-rata UH 1 mata pelajaran biologi kelas X SMAN 1 Pasaman tahun pelajaran 2009/2010
No
Kelas
Jumlah
Nilai Rata-Rata
1.
X1
41 orang
81,54
2.
X2
45 orang
69,02
3.
X3
44 orang
63,23
4.
X4
44 orang
58,20
5.
X5
43 orang
48,12
6.
X6
43 orang
74,35
7.
X7
44 orang
60,37
  (Sumber: Guru Biologi SMAN 1 Pasaman)
Berdasarkan uji Anova yang telah dilakukan, populasi tidak berasal dari sumber keragaman yang sama. Dari uji lanjut, kelas yang berasal dari sumber keragaman yang sama adalah kelas X3, X4, dan X7. Selanjutnya secara acak dipilih dua kelas yang menjadi kelas sampel yaitu kelas X3 dan X7.

C.    Variabel dan Data
1.      Variabel
Penelitian ini terdiri dari 2 variabel yaitu variabel bebas dan varibel terikat.
a.       Variabel bebas pada penelitian ini adalah perlakuan yang diberikan kepada siswa. Perlakuan yang diberikan yaitu pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran aktif tipe Bowling Campus disertai Tugas Rumah.
b.      Varibel terikat adalah hasil belajar siswa yang diperoleh setelah perlakuan diberikan.
2.      Data
a.       Jenis Data
Data yang diperlukan adalah data primer. Data primer merupakan data yang diperoleh dari hasil belajar siswa setelah diberikan tes pada akhir penelitian.
b.      Sumber Data
Sumber data dalam penelitian adalah siswa kelas X SMAN 1 Pasaman Tahun Pelajaran 2009/ 2010 yang menjadi sampel dalam penelitian ini.

D.    Prosedur Penelitian
Secara umum, prosedur penelitian dapat dibagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap pengumpulan dan analisis data.
1.      Tahap Persiapan
a.       Membuat proposal penelitian
b.      Menentukan tempat dan jadwal penelitian
c.       Membuat surat izin penelitian
d.      Menentukan populasi dan sampel
e.       Menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol
f.       Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
g.      Mempersiapkan media dan evaluasi yang akan digunakan dalam penelitian.
2.      Tahap Pelaksanaan
Perlakuan yang diberikan pada kelas sampel dapat dilihat pada tabel 4 di bawah ini:
Tabel 4. Tahapan pelaksanaan penelitian
Kelas Eksperimen
Kelas Kontrol
1
2
Pra Pendahuluan
1.      Mengisi Absen Siswa.
2.      Meyuruh siswa mengumpulkan
Pra Pendahuluan
1.      Mengisi Absen Siswa.
2.      Menanyakan pada siswa tentang
1
2
tugas rumah yang telah diberikan pada pertemuan sebelumnya (tugasnya berupa membuat pertanyaan yang disertai jawabannya tentang materi yang akan dipelajari pada hari itu).
3.      Pada kelas eksperimen, satu kali pertemuan menggunakan satu LDS, kegiatannya sebagai berikut:
Materi yang telah dibaca di rumah





3.      Pada kelas kontrol, satu kali pertemuan menggunakan satu LDS, kegiatannya sebagai berikut:
a.       Pendahuluan
1.      Guru mengemukakan apersepsi dan meminta siswa menghubungkan keterkaitan pelajaran yang lalu dengan pelajaran yang akan dipelajari.
2.      Guru memotivasi siswa mengenai pokok bahasan kemudian guru memberikan topik-topik yang akan dipelajari melalui bahan ajar.
3.      Guru menjelaskan model pembelajaran yang akan digunakan yaitu pembelajaran aktif menggunakan tipe Bowling Campus.
a.       Pendahuluan
1.      Guru mengemukakan apersepsi dan meminta siswa menghubungkan keterkaitan pelajaran yang lalu dengan pelajaran yang akan dipelajari.
2.      Guru memotivasi siswa mengenai pokok bahasan kemudian guru memberikan topik-topik yang akan dipelajari melalui bahan ajar.
3.      Guru menjelaskan metode pembelajaran yang akan digunakan yaitu dengan metode ceramah dan diskusi.
a.       Kegiatan Inti
1.      Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok diskusi yang beranggotakan 4-5 orang siswa.
2.      Guru membagikan bahan ajar kepada siswa.
3.      Guru memberikan materi pelajaran secara umum. Materi yang akan diberikan lebih ditekankan pada konsep, dengan diberikan konsep-konsep kepada siswa, maka siswa lebih mudah mengerti dan memahami materi pelajaran.
4.      Guru meminta siswa untuk duduk dalam kelompok dan memberikan LDS kepada setiap kelompok
b.      Kegiatan Inti
1.      Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok diskusi yang beranggotakan 4-5 orang siswa.
2.      Guru membagikan bahan ajar kepada siswa.
3.      Guru memberikan materi pelajaran secara umum. Materi yang akan diberikan lebih ditekankan pada konsep, dengan diberikan konsep-konsep kepada siswa, maka siswa lebih mudah mengerti dan memahami materi pelajaran.
4.      Guru meminta siswa untuk duduk dalam kelompok dan memberikan LDS kepada setiap kelompok

1
2

untuk dipelajari dan membahas soal-soal yang ada dalam LDS
dengan cara diskusi. Dalam hal ini guru membimbing diskusi kelompok siswa.
5.      Masing-masing membuat laporan diskusi kelompok.
6.      Melaksanakan pembelajaran aktif tipe Bowling Campus sebagai berikut:
a)      Guru memberikan nama atau nomor pada masing-masing kelompok dan memberikan kartu indeks untuk tiap anggota kelompok.
b)      Guru mengejukan pertanyaan dan siswa yang mengacungkan kartu indeksnya akan menjawab pertanyaan tersebut dalam waktu yang telah ditentukan.
c)      Apabila siswa yang terpilih tidak bisa menjawab dengan tepat dalam waktu yang telah ditentukan, maka siswa dari kelompok lain dapat mengacungkan kartunya dan diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan tersebut.
d)     Setelah semua pertanyaan diajukan, guru bersama dengan siswa menjumlahkan skor pada pembelajaran Bowling Campus yang telah dilaksanakan dan guru mengumumkan kelompok pemenangnya serta guru memberikan penghargaan pada kelompok pemenang.


untuk dipelajari dan membahas soal-soal yang ada dalam LDS
dengan cara diskusi. Dalam hal ini guru membimbing diskusi kelompok siswa.
4.      Masing-masing membuat laporan diskusi kelompok.
5.      Melaksanakan pembelajaran dengan melakukan diskusi kelas sebagai berikut:
a)      Guru memilih secara acak salah satu kelompok yang akan mempresentasikan laporan hasil diskusi kelompoknya
b)      Kelompok yang terpilih mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas.



c)      Meminta siswa dari kelompok lain menggapi hasil diskusi kelompok yang telah tampil.






d)     Guru memberikan tangapan dari kegiatan diskusi yang telah dilaksanakan.
1
2
b.      Penutup
1.      Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan materi pelajaran yang telah dipelajari.
2.      Mengingatkan siswa untuk mempelajari materi pelajaran yang akan datang dan tugas rumah yang akan dibuat dan dikumpulkan pada pertemuan selanjutnya.
c.       Penutup
1.      Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan materi pelajaran yang telah dipelajari.
2.      Mengingatkan siswa untuk mempelajari materi pelajaran pertemuan selanjutnya.


3.      Tahap Pengumpulan dan Analisis Data
Tahapan ini dilakukan setelah selesainya tahap persiapan dan tahap pelaksanaan penelitian. Tahapannya adalah sebagai berikut:
a.       Memberikan instrumen penelitian kepada sampel siswa yaitu berupa tes akhir (ujian).
b.      Mengumpulkan data.
c.       Mengolah data dari kedua kelas sampel.
d.      Menarik kesimpulan dari hasil yang didapat sesuai dengan teknik analisa data yang digunakan.

E.     Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan yaitu berupa tes hasil belajar. Tes yang diberikan berupa tes objektif pilihan ganda dengan lima option. Tes yang diberikan sesuai dengan materi pelajaran yang dilaksanakan selama perlakuan berlangsung dan tes ini dilakukan setelah penelitian berakhir. Agar didapatkan tes yang valid, reliabel, dan memperhatikan taraf kesukaran serta daya beda soal, maka dilakukan uji coba tes sebelum diberikan pada sampel penelitian.
1.      Validitas
Validitas adalah suatu konsep yang berkaitan dengan tes untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Anastasi (tanpa tahun) dalam Surapranata (2005: 50) menjelaskan “validitas adalah suatu tingkatan yang menyatakan bahwa suatu alat ukur telah sesuai dengan apa yang diukur”. Jadi, dapat disimpulkan validitas tes perlu ditentukan untuk mengetahui kualitas tes dalam kaitannya dengan mengukur hal yang seharusnya diukur. Untuk menentukan apakah sebuah tes itu sudah valid dan memiliki kualitas yang baik, tes ini dapat dianalisa dengan menggunakan validitas isi. Arikunto (2008: 67) mengatakan “sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan”.
Validitas isi suatu tes hasil belajar adalah validitas yang diperoleh setelah dilakukan analisis dan penelusuran terhadap isi yang terkandung dalam tes hasil belajar tersebut. Tes ini harus memiliki isi yang dapat mewakili secara representatif terhadap keseluruhan materi atau bahan pelajaran yang seharusya diujikan (Sudijono, 2008: 164).

2.      Reliabilitas
Suatu alat penilaian dapat dikatakan mempunyai kualitas yang baik apabila alat tersebut memiliki atau memenuhi dua hal, yaitu validitas dan reliabilitas. “Reliabilitas alat penilaian adalah ketetapan atau keajegan alat tersebut dalam menilai apa yang dinilainya”(Sudjana, 2004: 16). Jika suatu alat penilaian (instrumen penilaian) sudah reliabel, artinya instrumen tersebut cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik (Syamsurizal, 2006: 127). Menurut Arikunto (2008: 103) salah satu cara untuk menentukan besarnya reliabilitas alat ukur adalah dengan menggunakan rumus yang dikembangkan oleh Kuder dan Richardson, yaitu rumus K-R 21. Rumus tersebut adalah:

Keterangan:
r11        =  reliabilitas tes secara keseluruhan
n          =  jumlah item (butir soal )
M         =  mean atau rerata skor total
S          =  standar deviasi dari tes

Menurut Fraenkel dan Wallen (1996) dalam Lufri (2005:134) kriteria koefisien reliabilitas yang digunakan adalah sebesar ≥ 0,7.
3.      Analisis Butir Soal
a.       Tingkat Kesukaran
Bermutu atau tidaknya butir-butir soal tes hasil belajar dapat diketahui dari derajat kesukaran atau taraf kesulitan yang dimiliki oleh masing-masing butir soal tersebut. Butir-butir soal tes hasil belajar dapat dinyatakan sebagai butir-butir soal yang baik, apabila butir-butir soal tersebut tidak terlalu sukar atau tidak terlalu mudah (Sudijono, 2008: 370). Sejalan dengan pendapat Sudijono tersebut, Arikunto (2008: 207) menyatakan bahwa soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau terlalu sulit. Soal yang terlalu mudah tidak dapat merangsang peserta didik untuk mempertinggi usaha memecahkannya. Sebaliknya, soal yang terlalu sukar akan menyebabkan peserta didik menjadi putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba lagi karena diluar jangkauannya. Untuk menentukan derajad kesukaran soal dapat digunakan rumus:
Keterangan:
P  = Indeks Kesukaran atau Tingkat Kesukaran
B  = Banyaknya siswa yang menjawab soal dengan betul
JS = Jumlah peserta tes

Kriteria tingkat kesukaran yang dikemukakan oleh Nana Sudjana (1989) dalam Syamsurizal (2006: 156) dikategorikan menjadi 3, yaitu:
Soal dengan  P 0,00–0,3 adalah soal sukar
Soal dengan  P 0,31–0,7 adalah soal sedang
Soal dengan  P 0,71–1,0 adalah soal mudah.
Kriteria tingkat kesukaran soal yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah yang soal yang memiliki nilai P 0,31–0,7.
b.      Daya Beda
Analisis daya beda mengkaji butir-butir soal dengan tujuan untuk mengetahui kesanggupan soal dalam membedakan siswa yang tergolong mampu (kemampuannya tinggi) dengan siswa yang tergolong kurang mampu (kemampuannya rendah). Butir soal yang tidak memiliki daya beda diduga terlalu mudah atau terlalu sulit sehingga perlu diperbaiki atau diganti. Idealnya semua butir soal memiliki daya beda dan tingkat kesukaran (Sudjana, 204: 141−144). Arikunto (2008: 213) menyatakan bahwa untuk menentukan daya beda soal dapat digunakan rumus:
Keterangan:
D = Daya Beda
J   = Jumlah peserta tes
Ja = Banyaknya peserta kelas atas
Jb = Banyaknya peserta kelas bawah
Ba = Banyaknya siswa kelas atas yang menjawab soal dengan benar
Bb = Banyaknya siswa kelas bawah yang menjawab soal dengan benar
Pa = Proporsi kelas atas yg menjawab benar
Pb = Proporsi kelas bawah yg menjawab benar

Kriteria daya beda soal yang dikemukan oleh Arikunto (2008: 213) adalah:
0,00 – 0,20 = kurang baik
0,21 – 0,40 = cukup baik
0,41 – 0,70 = baik
0,71 – 1,00 = sangat baik

Kriteria daya beda soal yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah soal yang memiliki nilai D > 0,3.

F.     Teknik Analisis Data
Dalam analisis data akan dilakukan uji normalitas, uji homogenitas dan uji hipotesis. Sebelum dilakukan uji hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas. Uji ini bertujuan untuk mengetahui apakah sampel terdistribusi normal atau tidak dan apakah kelas sampel bervarian homogen atau tidak.
1.      Uji Normalitas
Uji normalitas ini bertujuan untuk menentukan apakah sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Untuk uji normalitas ini digunakan uji Lillefors dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a.       Menyusun data X1, X2, X3, ..., Xn  hasil belajar dalam bentuk tabel mulai dari data yang terkecil hingga data yang terbesar.
b.      Data X1, X2, X3, ..., Xn  dijadikan bilangan baku Z1, Z2, Z3, ..., Zn dengan menggunakan rumus:
c.       Dengan menggunakan daftar distribusi normal baku, kemudian dihitung peluang  F(Zi) = P(Z £ Zi).
d.      Menghitung harga S(Zi), yaitu proporsi skor baku (Z1, Z2, Z3, ..., Zn) yang lebih kecil atau sama dengan Zi, dengan menggunakan rumus:
e.       Menghitung selisih F(Zi) - S(Zi), kemudian menghitung harga mutlaknya.
f.       Mengambil harga yang paling besar diantara harga-harga mutlak selisih tersebut. Harga ini disebut sebagai L0.
g.      Membandingkan nilai L0 dengan nilai kritis Ltabel yang diambil dari taraf nyata a yang dipilih. Kriterianya diterima yaitu hipotesis itu normal jika L0 lebih kecil dari Ltabel, selain dari itu hipotasis ditolak (Sudjana, 2005: 466-467).
2.      Uji Homogenitas
Uji homogenitas ini bertujuan untuk melihat apakah kedua sampel mempunyai varians yang homogen atau tidak. Untuk mengujinya dilakukan uji F dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a.       Mencari varian masing-masing kelompok data, kemudian menghitung harga F dengan menggunakan rumus:
Keterangan:
F          =  varian kelompok data
S12          =  varian hasil belajar terbesar
S22       =  varian hasil belajar terkecil

b.      Jika harga Fhitung sudah didapatkan, maka Fhitung dibandingkan dengan Ftabel yang terdapat dalam daftar distribusi F dengan taraf signifikan 5% dan dkpembilang = n1 -1 , dkpenyebut = n2 - 1. Bila harga Ftabel lebih besar dari Fhitung berarti kelompok data mempunyai varian yang homogen dan sebaliknya (Sudjana, 2005: 249).
3.      Uji Hipotesis
Berdasarkan uji normalitas dan uji homogenitas, ada tiga kemungkinan hasil yang didapatkan, yaitu data normal dan homogen, data normal dan tidak homogen, dan data tidak normal dan tidak homogen. Untuk ketiga kemungkinan tersebut, maka uji hipotesis yang digunakan adalah:
a.       Data terdistribusi normal dan dua kelompok data homogen, maka digunakan rumus sebagai berikut:
   dan  
Keterangan:
=  nilai rata-rata kelas eksperimen
=  nilai rata-rata kelas kontrol
S1         =  standar deviasi kelas eksperimen
S2         =  standar deviasi kelas kontrol
S          =  standar deviasi gabungan
n1         =  jumlah siswa kelas eksperimen
n2         =  jumlah siswa kelas kontrol

Kriteria pengujian yang digunakan adalah H0 diterima jika -t 1- ½ a < t < t 1- ½ a dimana t1-½ a didapat dari daftar distribusi t pada taraf signifikan 0,05 dengan dk = (n1 + n2 - 2) dengan peluang (1 - ½a). Untuk harga lainnya H0 ditolak (Sudjana, 2005: 239-240).
b.      Data terdistribusi normal dan dua kelompok data tidak homogen, maka digunakan rumus sebagai berikut:
Kriteria pengujian adalah: diterima hipotesis H0 jika
Dengan:    
                  t1 = t (1 - ½a), (n1 - 1)  dan  t2 = t (1 - ½a), (n2 - 1)
(Sudjana, 2005: 241).
c.       Data terdistribusi tidak normal dan dua kelompok data tidak homogen, maka uji yang digunakan adalah uji U.
Keterangan:
R1           =  jumlah jenjang tes pada kelas eksperimen
R2           =  jumlah jenjang tes pada kelas kontrol
n1            =  jumlah siswa pada kelas eksperimen
n2            =  jumlah siswa pada kelas kontrol

Hipotesis diterima jika Uhitung £ Utabel (Best, 1982: 369-370).

















DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsimi. 2008. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi    Aksara.

Best, John W. 1982. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.

Dimyati dan Mudjiono.2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Lufri. 2005. Pendidikan dan Pengajaran Biologi Bernuansa IESQ. Padang: UNP Press.

Lufri. 2007. Kiat Memahami Metodologi dan Melakukan Penelitian. Padang: Jurusan Biologi FMIPA UNP.

Lufri. 2007. Strategi Pembelajaran Biologi: Teori, Praktik, dan Penelitian. Padang: UNP Press.

Nasution, S. 2008. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Pitriana, Yulia. 2009. “Pengaruh Pembelajaran Aktif Menggunakan Tipe Bowling Campus terhadap Hasil Belajar Biologi Kelas XI Siswa SMA Adabiah Padang Tahun Pelajarang 2008/2009”. Skripsi tidak diterbitkan. Padang: Jurusan Biologi FMIPA UNP.

Purwanto, M. Ngalim. 2007. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Ramdhani, Neila. 2008. “Active Learning and Soft Skills”. (Online), http://neila.staff.ugm.ac.id/wordpress/wp-content/upload/2008/05/active-lerning.pdf, diunduh 26 Juni 2009.

Rustaman, Nuryani Y., Soendjojo Dirdjosoemarto, Suroso Adi Yudianto, Yusnani Achmad, Ruchji Subekti, Diana Rochintaniawati dan Mimin Nurjhani K. 2003. Strategi Belajar Mengajar Biologi. Bandung: Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI.

Sabri, Ahmad. 2007. Strategi Belajar Mengajar dan Micro Teaching. Jakarta: Quantum Teaching.

Sadiman, Arief, R.Rahardjo, anung Haryono, dan Rahardjito. 2006. Media Pendidikan (Pengertian, Perkembangan, dan Pemanfaatan). Jakarta: Raja Grafinda Persada.

Silberman, Melvin L. 2006. Active Lerning: 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung: Nusamedia.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta.

Samadhi, T.M.A. Ari. Tanpa tahun. “Pembelajaran Aktif (Active Learning)”. (Online), http://eng.unri.ac.id/dowload/teaching-improvement/BK2_Teach &Learn_2/Active%20learning_5.doc, diunduh 29 Juni 2009.

Sudijono, Anas. 2008. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sudjana. 2005. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito.

Sudjana, Nana .2000. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Sudjana, Nana. 2004. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Surapranata, Sumarna. 2005. Analisis, Validitas, Reliabilitas, dan Interpretasi Hasil Tes. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Syamsurizal. 2006. Assesmen Pembelajaran. Padang: Jurusan Biologi FMIPA UNP.

Wena, Made. 2009. Strategi pembelajaran Inovatif  Kontemporer. Jakarta: Bumi Aksara.

Winkel, W.S. 1987. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar